Mengenal teknologi ABS & EBD

 Citra Asri Buana ( Dealer Resmi Suzuki Indonesia ) - Salah satu syarat mutlak yang harus ada pada sebuah kendaraan adalah sistem keamanan yang mumpuni. Sehingga teknologi terbaru selalu dikembangkan untuk meningkatkan keampuhan sistem pengereman demi meningkatnya standar keamanan suatu kendaraan. Beberapa teknologi yang telah sukses diterapkan pada sistem pengereman sebut saja Anti-Lock Braking System ( ABS )  & Electronic Brake Distribution ( EBD ) yang sudah cukup familiar di telinga kita.

Sejarah ABS & EBD

ABS atau Anti-Lock Braking System pertama kali diperkenalkan oleh french Automobile & Aircraft Poineer yang digawangi oleh Gabriel Viosin untuk menahan Laju pesawat saat Landing pada tahun 1929. ABS pada waktu itu tidak secanggih sekarang tentunya karena sistem kerjanya masih sangat sederhana. ABS Kemudian di kembangkan oleh Dunlop's Maxaret System pada tahun 1950an. Pada tahun 1958, Maxaret mencoba mengaplikasikan teknologi tersebut kepada Motor yang bernama Royal Enfield Super Meteor Motor. Hasil testnya menunjukan bahwa ABS merupakan nilai tambah yang besar terhadap sistem keamanan aktif sepeda motor. Dari hasil pengujian tersebut dapat di simpulkan bahwa jarak pengereman sepeda motor dengan ABS dapat menjadi lebih pendek 30% jika di bandingkan dengan Sepeda motor tanpa ABS.

Namun dalam pandangan Direktur Enfield, Tony Wilson-Jones sistem ini kurang menjanjikan sehingga tidak di teruskan guna di adopsi pada motor produksi massal. Baru pada tahun 1971, ABS sistem Modern di perkenalkan kembali oleh pabrikan mobil Chrsyler yang bekerjasama dengan Bendix Corporation yang di namakan "Sure Brake" atau ABS dengan ECU yang di sebut ABS tiga Chanel Empat Sensor. Lalu General Motors memperkenalkan ABS nya dengan nama "Track Master" yakni ABS untuk roda belakang saja yang di aplikasikan pada mobil Cadilac. Lalu pabrikan Jepang Nissan menawarkan EAL( Electronic Antilock System) pada Nissan Presiden dan menjadi Mobil pertama Jepang yang memakai ABS.

Teknologi ABS pada Roda dua di aplikasikan sangat lambat. Dikarenakan pihak pabrikan belum sadar bahwa rem biasa sudah cukup untuk menghentikan laju motor. Baru pada tahun 1988, muncul gebrakan oleh BMW lewat Varian Motor BMW K100. Tidak lama kemudian pabrikan jepang, Honda menyusul. Honda mengeluarkan Honda ST1100 pada tahun 1992. Pemilihan ST1100 sangat lah tepat karena Motor jenis Touring ini banyak di pakai Polisi-polisi Eropa dan Amerika sebagai kendaraan Operasional sehari-hari. Kesuksesan Honda membuat pabrikan jepang lain yaitu Suzuki untuk mengeluarkan Variannya yaitu pada GSF1200SA atau biasa di sebut Suzuki Bandit. Sayangnya ABS belum di aplikasikan pada semua produk massal di seluruh dunia. Kecuali Harley Davidson yang sejak tahun 2008 semua produk yang di pasarkan ke seluruh dunia menggunakan ABS.

  ABS  

Anti-lock Braking System (ABS)

Sistem ABS berfungsi mencegah roda terkunci saat terjadi pengereman mendadak (panic brake) sehingga mobil masih bisa diarahkan. Sistem ini juga dapat memberi kontrol pengendalian pada kondisi jalan basah. Dimana saat pengemudi sedang melakukan pengereman sensor ABS akan bekerja. Jika mendeteksi adanya penguncian roda, maka sistem akan memerintahkan piston rem untuk melepas sejenak jepitan kampas rem dan akan menjepit lagi setelah roda kembali berputar dan hal ini akan bekerja terus menerus sepersekian detik hingga mobil berhenti atau kecepatan turun. Tanda dari ABS yang sedang bekerja ialah pedal rem akan terasa sedikit bergetar.

 

Electronic Brake Distribution (EBD)

EBD umumnya ikut disertakan dalam sistem rem ABS guna mengoptimalkan pengereman. Meskipun begitu EBD berbeda dengan ABS. Fungsi utama dari EBD ialah untuk mengatur tekanan minyak rem yang berbeda-beda ke setiap roda tergantung kondisi jalan, kecepatan, beban dan faktor-faktor lainnya. Saat dikombinasikan dengan ABS, EBD akan mendistribusikan tekanan rem yang tepat pada tiap roda untuk mengembalikan daya cengkeram pada roda yang slip sehingga kendaraan bisa tetap terkontrol lajunya.

 

 

Bagaimana Cara Merawat Rem dengan Teknologi ABS & EBD ?

ABS & EBD sendiri terdiri dari tiga bagian yaitu sensor, modul, dan komputer yang terinteregasi di electronic control unit. Sensor memiliki fungsi untuk menangkap sinyal perintah yang di inginkan oleh pengemudi yang dapat mencegah dari terjadinya penguncian pada keempat sistem rem di mobil Anda. Data yang dikirim sensor di tangkap oleh computer di ecu dan kemudian diteruskan ke master rem. Dan master rem melakukan tugasnya memberikan tekanan kepada masing-masing caliper rem. Agar umur pemakaian di sistem rem ABS bisa lebih panjang dan optimal ikuti tips berikut :

 

 

sensor

 
 

 

Posisi sensor ABS tersebut terletak pada kaliper rem. Saat membersihkan sensor tersebut lakukan dengan hati - hati, karena jika rusak untuk penggantian unit tersebut tidak terbilang murah. Jika kaliper rem rusak, sebaiknya lakukan perbaikan tersebut di bengkel resmi atau pastikan mekanik tersebut memahami sistem kerja rem ABS rem tersebut. Sebaiknya jika Anda ingin membersihkan sensor tersebut, gunakan dengan cairan pembersih rem,karena pada saat kondisi sensor dalam keadaan bersih maka sistem kerja ABS tersebut pun akan menjadi lebih maksimal.

 

 

 

 

injak

 
 

 

Pada saat posisi diam, dan Anda menginjak pedal rem mobil Anda berkali - kali, ini artinya meningkatkan beban yang tidak perlu ke sensor ABS.Jika hal tersebut terlalu sering dilakukan, maka ini dapat memperpendek umur pemakaian sensor pada sistem ABS di mobil Anda. Bahkan entakan pada pedal rem yang terlalu keras dapat menyebabkan tejadinya pengucian pada sistem di pengereman mobil Anda. Dan ini dapat mengurangi tingkat keamanan berkendara Anda, terutama pada saat kecepatan tinggi.

 

 

 

 

minyak-rem

 
 

 

 

Untuk memaksimalkan performa pada sistem pengereman di mobil Anda. Sebaiknya lakukan penggantian minyak rem di mobil Anda setiap kelipatan 25000km, karena pada saat kondisi minyak rem sudah terlalu cair, maka kualitas pengereman dan kinerja sistem ABS di mobil Anda pun akan menurun secara cukup drastis. Dimana hal tersebut dapat mengurangi tingkat keamanan berkendara Anda. Dan perlu diperhatikan juga, untuk beberapa jenis kendaraan, setelah melakukan penggantian minyak rem biasanya lampu indikator ABS tersebut akan menyala.

Jika hal ini terjadi pada mobil Anda,sebaiknya mobil Anda dibawa ke bengkel spesialis rem atau bengkel resmi yang dapat menghilangkan nyalanya lampu tersebut, dengan menggunakan alat G scan untuk mereset ulang pada sistem rem ABS tersebut.

 

 

 

 

 

kanvas

 
 

 

Periksa kondisi kanvas rem. Setiap kelipatan servis rutin 15000 km, periksa selalu kondisi kanvas rem di mobil Anda. Jika sudah tipis, sebaiknya diganti segera dengan yang baru. Efek dari kondisi kanvas rem yang sudah tidak layak lagi untuk digunakan, dapat mengurangi performa pada sistem ABS di mobil Anda dan juga dapat memperpanjang jarak pengereman di mobil Anda.Hal tersebut dapat dirasakan dari tingkat kedalaman injakan pedal rem yang dibutuhkan untuk menghentikan laju mobil. Semakin dalam rem di injak, maka semakin besar potensi terjadinya keausan pada kanvas rem. Hal tersebut dapat menyebakan rem menjadi blong.